Keorganisasian: Sebuah Pengantar

Pendahuluan

Sejak zaman dahulu hingga saat ini sebenarnya orang sudah mengenal dan bersentuhan dengan organisasi. Hal ini dibuktikan dengan perilaku manusia primitif zaman dulu yang mempraktekkan hidup secara berkelompok, mengatur kehidupan kelompoknya, bahkan budaya dan ritualnya demi mempertahankan eksistensi kelompoknya dan perkembangannya. Lebih-lebih di zaman modern seperti sekarang ini banyak orang yang sepakat mengatakan bahwa organisasi itu ‘penting’.

Tak hanya di zaman primitif, di zaman kita sekarang inipun sejak kita dilahirkan, tumbuh dan berkembang hingga saat ini kita banyak bahkan sering berhubungan dengan suatu organisasi yang entah kita sadari atau tidak. Sebagai contoh misalnya, ketika kita dilahirkan (mungkin saja) kita dibantu seorang dokter atau bidan yang bekerja pada suatu organisasi yang mana organisasi itu bernama rumah sakit atau rumah bersalin. Ketika kita menginjak dewasa, dunia pendidikan kita yang dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi pun juga berhubungan dengan organisasi, yaitu organisasi pendidikan yang jenjangnya mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA hingga Perguruan Tinggi.

Setelah kita menyelesaikan studi hingga perguruan tinggipun kita masih harus berhubungan dengan organisasi, yaitu ketika kita mencoba melamar pekerjaan pada suatu lembaga tertentu baik swasta maupun pemerintah. Intitusi tempat kita bekerjapun juga merupakan suatu organisasi, yang kita harus tunduk pada aturan atau ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam institusi tersebut, sekaligus kita dituntut produktivitas kita untuk kepentingan organisasi tersebut. Demikianlah, hingga kapanpun orang tidak akan pernah terlepas dari lingkaran organisasi apapun bentuknya.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa manusia sepanjang hidupnya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan organisasi. Mulai dari lingkungan yang terkecil yaitu keluarga, RT, RW, hingga pada suatu tempat di mana orang bekerja, misalnya di suatu lembaga pemerintahan, atau perusahaan yang memberikan kepadanya penghasilan dan penghidupan bagi anak istrinya. Dapat kita simpulkan pula bahwa selama manusia itu ada, maka organisasipun akan ada pula sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, manusiapun merupakan bagian penting dari organisasi.

Di era globalisasi sekarang ini keberadaan organisasi menjadi semakin penting, karena pengaruh globalisasi memvisualisasikan keadaan-keadaan yang berubah dengan cepat. Setiap organisasi dituntut untuk dapat memprediksi dan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi, jika tidak maka kegagalan akan ditemui oleh organisasi, dan bahkan organisasi itu akan hilang eksistensinya. Kehidupan organisasi di zaman globalisasi ini semakin berat karena tantangan-tantangan yang dihadapipun makin banyak dan kompleks. Oleh karena itu, profesionalisme Sumber Daya Manusia (human resources), kegigihan dan katangguhan organisasi dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman sangat diperlukan dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini.

Pada makalah ini kita akan mencoba mengenal dan mempelajari “organisasi” secara umum, dengan titik fokus pada upaya untuk memahami apa itu organisasi, bagaimana proses terbentuknya organisasi, apa saja macam-macam organisasi, dan lain sebagainya.

 

Apa itu Organisasi?

Secara umum kata “organisasi” dapat dimaknai sebagai suatu wadah atau tempat sekumpulan atau sekelompok orang yang bekerjasama dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Dari segi etimologi, kata “organisasi” berasal dari bahasa Anglo-Saxon yaitu “Organon” yang berarti suatu alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata “organisasi” berasal dari kata “to organize” yang berarti mengurus, menyusun, menyelenggarakan. Di sini dimaksudkan menyusun bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu kesatuan, sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan pekerjaan dalam mencapai suatu tujuan (Hamzah Yakub, : 74).

Kenneth N. Wexley dan Gary A. Yukl mendefinisikan kata organisasi sebagai hubungan-hubungan yang terpolakan di antara orang-orang berurusan dengan aktivitas-aktivitas ketergantungan yang diarahkan pada suatu tujuan tertentu.(M. Shobaruddin, 1992:13). Sedangkan menurut F.X. Soedjadi, kata organisasi didefinisikan sebagai berikut :

Organisasi pada pokoknya adalah sekelompok manusia yang dengan sengaja dipersatukan dalam suatu kerjasama yang efisien untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Di samping itu organisasi dapat juga dipandang sebagai suatu sistem dan bentuk hubungan antara wewenang dan tanggung jawab antara atasan dan bawahan dalam rangka pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan dengan cara yang paling efisien (FX. Soedjadi, 1990:43)

Untuk melengkapi pengertian mengenai organisasi di atas, pendapat-pendapat beberapa pakar berikut ini, sebagaimana dikutip Sutarto (Sutarto, 1995:22) layak untuk kita renungkan.

Oliver Sheldon (1923) :

“Organization is the process of so combining the work which individuals or groups have to perform with the faculties necessary for it execution that th duties, so formed, provide the best channels for the efficient, systematic, positive, and coordinated application of the available effort.” (Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para invidu atau kelompok-kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas, sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari usaha yang tersedia.)

 

William Schulze (1949) :

“An organization is a combination of the necessary human beings, materials, tools, equipment, working space and appurtenances, brought together in systematic and effective correlation, to accomplish some desired object.” (Organisasi adalah penggabungan dari orang-orang, benda-benda, alat-alat, perlengkapan, ruang kerja dan segala sesuatu yang bertalian dengannya, yang dihimpun dalam hubungan yang teratur dan efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.)

James D. Mooney (1974) :

“Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose.” (Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian suatu tujuan bersama.).

Dari beberapa definisi di atas dapat kita berikan kesimpulan bahwa organisasi adalah suatu wadah tempat berkumpulnya sekelompok orang, yang di dalamnya juga terdapat benda-benda, alat-alat, perlengkapan dan sebagainya yang kesemuanya diarahkan dan dikerjakan secara bersama-sama dengan cara kerja yang efektif dan efisien dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut James L. Gibson dkk., organisasi adalah: “Kesatuan yang memungkinkan anggota mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai melalui tindakan individu secara terpisah”(James L. Gibson dkk., 1985). Pernyataan Gibson ini memberikan pemahaman bahwa manusia atau individu merupakan anggota dari suatu organisasi, dan organisasi yang ditempatinya akan memperoleh hasil yang lebih besar ketika dalam organisasi tersebut mereka dapat bekerja secara bersama-sama. Dan berbeda ketika tujuan-tujuan tersebut dikerjakan secara perorangan atau individual.

Stephan P. Robbins juga memberikan batasan tentang organisasi sebagai berikut:

Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan” (Stephan P. Robbins, 1994).

Dari kedua pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan organisasi adalah “kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, yang memungkinkan anggota-anggota yang ada di dalamnya dapat mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai jika dilakukan secara perorangan dan terpisah.

 

Mengapa Organisasi diperlukan?

Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa orang mau tidak mau harus memerlukan organisasi atau hidup dengan “berorganisasi”, agar survivalitas hidupnya dapat berjalan lebih baik. Secara sederhana, organisasi dapat dipahami sebagai alat untuk mencapai tujuan. Karena itu organisasi mempunyai dua pengertian yang tak dapat dipisahkan sebagai satu kesatuan yang utuh, yaitu:

  1. Organisasi sebagai wadah.

Organisasi sebagai wadah bersifat statis, karena merupakan bagan organisasi yang mewadahi seluruh anggotanya dengan status posisinya. Jadi, sebagai wadah, organisasi merupakan piranti manajemen (Tools of Management).

  1. Organisasi sebagai proses.

Organisasi sebagai proses bersifat dinamis. Organisasi selalu bergerak menuju tercapai tujuan organisasi. Organisasi sebagai proses bersifat dinamis, karena harus mengadakan pembagian tugas, wewenang, harus memberikan tanggung jawab, dan mengadakan hubungan baik kedalam maupun keluar kepada para anggotanya dalam upaya mencapai kesuksesan organisasi.

Organisasi sebagai wadah dapat dimaknai sebagai tempat untuk menampung orang-orang yang memiliki kesamaan visi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Sedangkan organisasi sebagai proses dapat diartikan sebagai suatu wadah untuk “berproses”, melakukan segala sesuatu yang menjadi program-program organisasi agar proses dinamisasi dapat berjalan dan mengarah kepada pencapaian tujuan yang dirumuskan bersama.

 

Apa saja ciri-Ciri Organisasi?

Menurut Redi Panuju dalam Komunikasi Organisasi, meskipun semua organisasi memiliki karakteristik yang khas (bervariasi), semua organisasi juga memiliki hal-hal tertentu yang sama dan ada pada setiap organisasi, yaitu :

  • Satu tujuan bersama
  • Suatu struktur
  • Proses untuk mengkoordinasi kegiatan
  • Orang-orang yang melaksanakan peran-peran yang berbeda (Redi Panuju, 2003:23).

Menurut pendapat di atas, ciri-ciri organisasai secara umum terdapat beberapa hal, yaitu adanya suatu tujuan yang hendak dicapai bersama, memiliki struktur atau bagan organisasi, adanya kegiatan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan, serta adanya orang-orang atau anggota-anggota organisasi yang yang melakukan peran berbeda-beda sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing.

Pada bagian lain Redi Panuju juga menambahkan bahwa setiap organisasi memiliki misi, visi, nilai, iklim organisasi, budaya organisasi, motivasi, norma-norma kelompok dan sebagainya, baik tertulis maupun tak tertulis. Semua unsur-unsur tersebut sangat menentukan atau berpengaruh terhadap perilaku organisasi (Redi Panuju, 2003:24).

Apa saja yang harus ada dalam setiap organisasi?

Organisasi yang baik memerlukan beberapa hal sebagai prasyarat mutlak (conditio sine qua non) yang harus ada dalam setiap organisasi. Prasyarat mutlak yang harus ada dalam setiap organisasi tersebut selanjutnya kita sebut saja dengan asas-asas organisasi (Dydiet Hardjito, 1995:8-11) yang meliputi:

  1. Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas

Dengan adanya tujuan yang jelas dalam organisasi akan menjadikan para anggota yang terlibat di dalamnya memahami kemana organisasi akan dibawa. Organisasi yang tidak memiliki tujuan yang jelas akan mengakibatkan organisasi tersebut tidak memiliki pegangan yang kuat, terlebih lagi bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Tujuan organisasi tersebut biasanya divisualisasikan dalam bentuk visi dan misi organisasi yang merupakan ruh dari organisasi tersebut.

  1. Organisasi harus memiliki kesatuan komando

Kesatuan komando diperlukan bagi orang-orang yang terlibat dalam organisasi untuk menuju kepada satu kesatuan arah (unity of direction). Tanpa adanya kesatuan komando akan mengakibatkan anggota-anggota suatu organisasi berjalan sendiri-sendiri sehingga pencapaian tujuan organisasi menjadi sulit diwujudkan.

  1. Organisasi harus melaksanakan pembagian kerja atau pembagian tugas

Pembagian tugas perlu dilaksanakan agar para anggota yang terlibat dalam suatu organisasi dapat memahami akan tugas dan kewajibannya masing-masing, termasuk di dalamnya hak, wewenang dan tanggung jawabnya. Dalam pembagian kerja ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. The right man in the right place

Orang yang tepat di tempat yang tepat artinya kepiawaian menempatkan setiap personil dalam organisasi sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Hal ini mutlak dilakukan untuk mewujudkan efektivitas organisasi. Persyaratan ini menekankan pentingnya keahlian dalam menangani suatu bidang pekerjaan.

  1. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab dalam pekerjaan

Keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab diperlukan agar dalam organisasi terjadi mekanisme kerja yang sehat dan berwibawa antar masing-masing personil yang terlibat dalam sebuah organisasi.

  1. Memperhatikan “Span of Control”

Span of Control adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengawasi orang lain yang menjadi bawahannya.

 

  1. Harus ada pelimpahan wewenang dan tanggung jawab.

pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atau delegation of authority and responsibility dapat diartikan dengan menyerahkan sebagian wewenang kepada bawahannya dengan kepercayaan penuh. Hal ini penting dilakukan agar bawahannya juga harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan organisasi di mana mereka bekerja. Pelimpahan sebagian wewenang kepada bawahan dimaksudkan agar:

  1. Agar pimpinan dapat berkonsentrasi pada pekerjaan yang penting-penting saja seperti keputusan kebijaksanaan, rencana strategis, pengendalian dan lain-lain sebagainya, sedangkan yang sifatnya rutin dapat dikerjakan oleh bawahan.
  2. Agar semuanya tidak bergantung kepada atasan/pimpinan.
  3. Merupakan dorongan bagi bawahan untuk lebih percaya diri, bekerja lebih baik, kreatif dan bertanggung jawab.
  1. Tersedianya sarana dan prasarana.

Alat-alat dan perlengkapan untuk keprluan bekerja suatu organisasi merupakan kebutuhan pokok organisasi, karenanya sarana dan prasarana harus ada dalam setiap organisasi untuk mendukung efektivitas dan efisiensi program-program organisasi.

Apa saja macam-macam organisasi?

Macam-macam organisasi dapat dibedakan menjadi 6 bagian yakni berdasarkan  beberapa ketentuan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan Proses pembentukannya;
  2. Berdasarkan Kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah;
  3. Berdasarkan Skala (ukuran) besar-kecilnya;
  4. Berdasarkan Tujuannya;
  5. Berdasarkan Organization Chartnya;
  6. Berdasarkan tipe-tipe/bentuknya. (Hasibuan, 1996:57)

Ad.1. Berdasarkan proses pembentukannya

Berdasarkan proses pembentukannya, organisasi dibedakan menjadi 2 yaitu:

  1. Organisasi Formal, yaitu organisasi yang dibentuk secara sadar dan dengan tujuan-tujuan tertentu yang disadari pula yang diatur dengan ketentuan-ketentuan formal, dalam AD/ART-nya.
  2. Organisasi Informal, yaitu organisasi yang dibentuk tanpa disadari sepenuhnya, tujuan-tujuan tidak jelas, AD/ART-nya tidak ada, dan hubungan yang terjalin secara personal saja.

 

Ad.2. Berdasarkan Kaitan hubungannya dengan pemerintah

Berdasar hubungannya dengan pemerintah organisasi ini dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu:

  1. Organisasi Resmi, yaitu organisasi yang dibentuk oleh (ada hubungannya) dengan pemerintah dan atau harus terdaftar pada lembaran negara. Misalnya jawatan-jawatan, lembaga-lembaga pemerintahan, yayasan-yayasan, dan perusahaan-perusahaan yang berbadan hukum.
  2. Organisasi Tidak Resmi, adalah organisasi yang tidak ada hubungannya dengan pemerintah, dan tidak terdaftar pada lembaran negara, seperti: organisasi-organisasi swasta, mungkin juga organisasi yang dibentuk oleh pemerintah tetapi merupakan unit-unit yang sifatnya swasta. Misalnua klub bola voli, sepak bola, group kesenian, organisasi pendaki gunung dan sebagainya.

 

Ad.3. Berdasarkan skala (ukuran) besar-kecilnya

Ditinjau dari besar-kecilnya organisasi dapat dibedakan menjadi:

  1. Organisasi besar;
  2. Organisasi menengah/sedang;
  3. Organisasi kecil

Ad.4. Berdasarkan Tujuannya

Berdasarkan tujuannya, organisasi dapat dibedakan menjadi:

  1. Organisasi Sosial (public organization)

Organisasi sosial adalah organisasi non-profit yang tujuan utamanya adalah untuk melayani kepentingan masyarakat, tanpa memperhitungkan rugi-laba. Tujuan utamanua adalah memberikan pelayanan dan bukan mengejar keuntungan (nonprofit motive). Misalnya pemerintah, yayasan-yayasan sosial dan sebagainya.

  1. Organisasi Bisnis (organisasi perusahaan)

Adalah organisasi yang didirikan untuk tujuan komersial (mendapatkan laba)  dan semua tindakannya selalu bermotif mencari laba. Jika organisasi perusahaan tidak memberikan laba, maka tidak rasional untuk melanjutkan lagi.

Ad.5. Berdasarkan organization chartnya

Organization chart atau bagan organisasi adalah suatu bentuk diagramatis yang menunjukkan aspek-aspek penting suatu organisasi, meliputi fungsi-fungsi utama dan hubungannya masing-masing, saluran pengendalian, wewenang dan pendelegasian wewenang dari masing-masing karyawan yang diserahi tugas.

Ad. 6. Berdasarkan tipe/bentuknya

Mengenai bentuk-bentuk organisasi, Ibnu Syamsi organisasi membedakannya menjadi lima bagian yaitu :

  1. Berdasarkan ikatan struktural, misalnya : organisasi sosial (lembaga sosial, rumah yatim piatu dan lain-lain), organisasi formal (dinas pemerintah) dan organisasi informal (arisan).
  2. Berdasarkan kebutuhan sosial, misalnya : organisasi ekonomi (pabrik tekstil yang juga mengadakan poliklinik), organisasi politik (partai politik), organisasi pengabdian masyarakat (rumah sakit, panti asuhan, yayasan sosial dan lain-lain), dan organisasi pelestarian (musium, cagar alam, dinas purbakala, kebun binatang).
  3. Berdasarkan jumlah pucuk pimpinan, misalnya : organisasi pimpinan tunggal (direktur, kepala kantor), organisasi pimpinan jamak (direksi yang terdiri dari direktur utama, beserta direktur-direktur khusus).
  4. Berdasarkan keterlibatan emosi, misalnya : organisasi primair (keluarga, organisasi profesi), organisasi sekunder (perusahaan dan lain-lain).
  5. Berdasarkan nilai dan biaya atau berdasarkan tujuan, misalnya : organisasi kerjasama (Koperasi, organisasi sosial), organisasi pencari untung (perusahaan industri, perdagangan), organisasi pengabdian (organisasi agama, lembaga bantuan hukum), dan organisasi penekan (serikat kerja) (Ibnu Syamsi, :10-12).

Sedangkan menurut F.X. Soedjadi, bentuk-bentuk organisasi terbagi menjadi 6 (enam) bagian yaitu :

  1. Organisasi Lini (Line Organization), yaitu suatu bentuk organisasi yang di dalamnya terdapat garis wewenang yang menghubungkan langsung secara vertikal antara atasan dengan bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai kepada setiap orang yang berada pada jabatan terendah, antara eselon yang satu dengan eselon yang lain, masing-masing dihubungkan dengan suatu garis wewenang atau garis komando.
  2. Organisasi Lini dan Staf (Line and Staff Organization), yaitu suatu bentuk organisasi dimana pelimpahan wewenang berlangsung secara vertikal dan sepenuhnya dari pimpinan tertinggi kepada para kepala unit di bawahnya. Untuk membantu kelancaran kerja dalam rangka pelaksanaan seluruh tugas pokok organisasi, maka langsung di bawah pimpinan tertinggi atau langsung di bawah masing-masing kepala unit ditempatkan seorang pejabat atau lebih yang tidak mempunyai wewenang komando.
  3. Organisasi Fungsional (Functional Organization), yaitu suatu organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada para kepala unit sebagai pejabat struktural yang memimpin kelompok kerja tertentu sebagai para pelaksana dalam suatu bidang pekerjaan dengan keahlian tertentu pula. Kelompok kerja seperti itu dikenal sebagai kelompok yang menduduki jabatan fungsional.
  4. Organisasi Lini dan Fungsional (Line and Functional Organization), yaitu suatu bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada para kepala unit di bawahnya khusus dalam suatu bidang pekerjaan tertentu, dan selanjutnya pimpinan tertinggi tadi masih melimpahkan pula wewenangnya kepada pejabat-pejabat fungsional yang melaksanakan bidang pekerjaan operasional, akan tetapi yang karena tugas-tugasnya maka secara fungsional koordinasinya (jadi bukan diperintah) diserahkan kepada para kepala unit tersebut terdahulu tanpa memandang tingkat eselonnya.
  5. Organisasi Lini, Fungsional dan Staf (Line, Fuctional, and staff organization), yaitu merupakan perkembangan lebih lanjut dari organisasi lini dan fungsional. Dalam organisasi ini wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada para kepala unit di bawahnya yang bertugas dalam sesuatu bidang tertentu, selanjutnya pimpinan tertinggi tersebut masih melimpahkan pula wewenangnya kepada pejabat-pejabat fungsional yang bertugas melaksanakan bidang pekerjaan dengan keahlian tertentu di dalamnya dan untuk pelaksanaannya dikoordinasi oleh kepala-kepala unit tersebut terdahulu; dan disamping itu langsung di bawah pimpinan tertinggi ditempatkan pula seorang atau beberapa orang pejabat sebagai staf ahli atau staf penasehat yang tidak memppunyai wewenang lini atau komando, melainkan bertugas semata-mata membantu pimpinan dalam memimpin organisasinya dengan sebaik-baiknya.
  6. Organisasi Komite (Committee Type Organization), yaitu suatu organisasi dimana tugas kepemimpinan dan juga tugas-tugas tertentu lainnya dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok pejabat yang berupa suatu komite atau dewan (board). Untuk itu sering digunakan istilah pluralistic management. Dewan biasanya terdiri dari presiden, wakil presiden dan para direktur (pimpinan) lainnya. Sedang untuk komite tergantung pada bidang urgensinya. Pada waktu-waktu yang sudah ditentukan diadakan pemilihan anggota dewan maupun komite yang baru (FX. Soedjadi, :52-62).

Dari uraian mengenai bentuk-bentuk organisasi tersebut di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa bentuk organisasi secara umum dapat terbagi kedalam dua bagian besar, yaitu : ditinjau dari jumlah pucuk pimpinan, dari tinjauan ini bentuk organisasi terbagi dua bagian yaitu bentuk tunggal, dan bentuk jamak.

Selanjutnya ditinjau dari saluran wewenang. Melalui tinjauan ini bentuk organisasi dibagi menjadi enam bagian yaitu : (1) organisasi berbentuk jalur, (2) organisasi berbentuk fungsional, (3) organisasi berbentuk jalur dan staf, (4) organisasi berbentuk fungsional dan staf, (5) organisasi berbentuk fungsional dan laur, serta (6) organisasi berbentuk jalur, fungsional dan staf.

Penutup

Betapapun kompleksnya organisasi, tetaplah menunjukkan bahwa organisasi merupakan sarana penting bagi manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya dalam kehidupan. Dengan berorganisasi, kehidupan menjadi lebih dinamis dan bermakna, karena dalam dunia organisasi, baik organisasi dalam bentuk apapun, manusia banyak belajar berbagai hal, tentang bagaimana menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi, bagaimana menghargai orang lain, bagaimana memecahkan persoalan-persoalan hidup, bagaimana menggapai sebuah impian dan cita-cita. Pendeknya, berorganisasi adalah suatu upaya mencapai kemaslahatan dan cita-cita hidup baik di dunia dan di akhirat kelak.

———————————————–

NB:

Disampaikan dalam Training of Organization HMK Tarbiyah STAIN Samarinda pada Jum’at, 22 April 2006 di Aula STAIN Samarinda

———————————————-

Written by: Imam Hanafie el-Arwany

Memo: 22 April 2006

Ilustrasi: Tulisan – Blogger

 

Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Manajemen dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan