Terkuaknya Rahasia Sekolah

Tersebutlah di sebuah kota kecil berdiri sebuah sekolah yang bernama, SMA “Harapan Kita”. Sekolah ini meskipun berstatus swasta tapi terbilang bonafid, karena banyak masyarakat yang menyekolahkan anak-anak ke sekolah ini. SMAN “Harapan Kita”, sering menjadi bahan studi banding sekolah-sekolah lain, dan di sekolah ini dikenal sebagai sekolah yang kental dengan suasana religi semua warga yang ada di dalamnya.

Suatu kali di sebuah sekolah,SMA “Harapan Kita”, terjadilah pembicaraan antara dua orang praktisi pendidikan. Kedua praktisi pendidikan itu adalah Pak Hamdan, kepala sekolah “Harapan Kita” dan satu lagi Pak Imron, seorang pengawas sekolah. Keduanya terlibat pembicaraan yang unik.

“Siapa laki-laki tu pak? Kelihatannya dia orang baru, karena baru kali ini saya melihatnya meskipun saya sering berkunjung ke sekolah ini.” Tanya Pak Imron sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki paruh baya yang sedang asyik mencabuti rumput di tepi halaman sekolah yang hampir tinggi.

Pak Hamdan: “Oh itu pak, dia itu Pak Supingi, mitra saya pak”

Pak Imron: “Mitra? Maksudnya? Tanya Pak Imron sedikit heran.

Pak Hamdan: “Ya, dia itu mitra saya yang mengurusi kebersihan sekolah kami” jawab Pak Hamdan dengan mimik serius.

“Oh…begitu ya” timpal Pak Imron.

“Saya tidak pernah menyebut staf atau guru yang ada di sekolah kami ini sebagai bawahan, tapi mitra, karena tanpa dukungan nyata dari mereka saya tidak mungkin bisa menjadikan sekolah ini seperti yang Bapak lihat saat ini” tukas Pak Imron.

Tak disangka, Pak Supingi, pegawai kebersihan itu rupanya mendengar percakapan kedua praktisi pendidikan itu. Ketika Pak Hamdan menyebut dia sebagai “mitra” kerjanya, dia tampak sumringah sambil sesekali memandang ke arah Pak Hamdan dengan perasaan bangga. Saat Pak Hamdan dan Pak Supingi beradu pandang, Pak Hamdan mengedipkan mata ke arah Pak Supingi sebagai tanda keakraban antara seorang pimpinan dan bawahan, dan tanpa berbicara apapun Pak Supingi hanya membalasnya dengan tersenyum. Melihat ‘adegan’ itu, Pak Imron juga ikut tersenyum bercampur haru, karena biasanya seorang atasan tidak begitu akrab dengan bawahan yang hanya berprofesi sebagai ‘tukang sapu’.

“Hmm…, hari ini saya belajar sesuatu yang kelihatannya sepele tapi berimplikasi besar” aku Pak Imron. “Saya jadi tahu kenapa sekolah anda ini maju, dan anda sebagai kepala sekolah begitu dihormati dan disegani oleh hampir seluruh penghuni sekolah ini, menurut saya rahasianya adalah anda begitu menghargai profesi warga di sekolah ini, mulai dari guru sampai petugas kebersihan” ujar Pak Imron. “Istilah sederhananya adalah anda pandai “memanusiakan manusia” tambah Pak Imron.

“Memang begitulah seharusnya tugas saya sebagai seorang pemimpin di sekolah ini Pak, saya selalu berusaha menyadari bahwa sebagai seorang pemimpin saya tidak bisa semena-mena menggunakan kekuasaan yang saya miliki untuk menekan orang yang saya pimpin agar mau menuruti semua instruksi saya, tapi saya selalu menekankan pentingnya pendekatan kemitraan yang persuasif, egaliter dan mengayomi sehingga dengan penuh kesadaran semua warga sekolah bisa saya ajak secara bersama-sama untuk menggerakkan roda sekolah” jelas Pak Hamdan.

“Betul sekali Pak, saya sependapat dengan anda” kata Pak Imron.

Saat keduanya asyik terlibat perbincangan, tiba-tiba suara adzan dzuhur berkumandang. “Baiklah Pak, mari kita pergi ke mushala sekolah di seberang gedung perpustakaan itu” ajak Pak Hamdan kepada Pak Imron.

“Pak Pingi, tolong istirahat dulu, ayo kita sholat berjamaah di mushola itu” ujar Pak Hamdan kepada Pak Supingi”. Pak Supingi segera membersihkan tangannya dan bergegas mengikuti langkah Pak Hamdan dan Pak Imron menuju mushola sekolah untuk sholat berjamaah dengan Pak Imron sebagai imam sholatnya. (Sangatta, 13/3/2013).

  • Written by: Imam Hanafie el-Arwany
  • Ilustrasi:
  • memo: 13/3/2013
Tulisan ini dipublikasikan di Rileks dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan